21 January 2011

Syair si pari-pari




Demi apa lidah berkata, demi apa hati bertanya.. demi cinta jangan tak setia, demi masa janji dikota... Perjalanan yang singkat menemukan titik permulaan di sudut hati yang tidak pernah terbuka, perjalanan yang hampir jatuh disebalik arus ketenangan yang dirasa cukup untuk ditelan, namun terserlah hanya andaian si pencerita seorang yg tidak berteman... langkah yang terhenti membuka seribu persimpangan yang menanti... dan demi takdir yang telah ditulis hanya Dia yang mengetahui...

Di kala saat bulan mencerahkan daratan, langit memainkan bunyian, maka lantas lautan memantulkan keinginan... dan hampir pasti dapat menerangi pencinta malam yang dulu hanya bermimpi, kerana bintang yang sering menghiasi sepenjuru alam selalu berjanji... dan setiap kata renungan sumpah dan sehati, lantas diambil cerita sejarahnya tulus ke lubuk sanubari..



Detik pertemuan menjanjikan keakraban, tetapi tidak mengisahkan keutuhan... namun ikatan yang tidak dilihat selalu mentafsir keyakinan... kerana Dia telah memberi harapan dengan doa dan kesungguhan... mengapa perlu berkata dusta sedangkan lidah menghunus tajam mengelak derita.. mengapa perlu melontar madu sedangkan bunga telah disiram akarnya... tetapi si pencerita tetap menulis bermatakan hati berlidahkan kemaafan... menanti petunjuk mengharapkan pedoman...



Hari demi hari dinanti bertanyakan hasrat kecil, hanya tertanya di manakah kaki ini berdiri... adakah mampu menuai saat membuah, adakah kelu manisnya sehingga tak lerluah... senyuman hampir menunggu pasti, jelingan khuatir dibalas janji... kata2 ini ikhlas diberi tanpa dibalasi, menangis tersenyum dulu yang hanya menyepi... riak wajah langkah tersusun sendiri, memberi ilham si pencerita merawat diri...

Dia adalah sekalung penyejuk amarah diri, dia adalah separuh jiwa yang dulu lemah kini berdiri, dia adalah kata-kata yang penuh janji, dan dia adalah lunas-lunas yang mengotakan apa yang telah dihajati... tatkala hampir jatuh lemas di dalam air mata sendiri, namun lautan di dalamnya ada yang menasihati, memberi nafas untuk direnangi, sehingga kaki melutut sambil menginsafi...
dan kepadaNya juga yang selalu memaafi...


Seperti yang terbuku terpateri, aku cuba memberanikan diri... memberi janji yang akan kupasti, menanti hujah penyejuk dihati... terbilang hari terdetik menyusuri, tertunggu cari hadiah diberi, akan ku panjat syukur ilahi, mudahkan petunjuk pada Kau yang memberi...

Demi yang mengutuskan engkau dengan kebenaran, aku mencintainya...


11 orang tersenyum:

najwa kamarudin 21/1/11 8:28 PM  

sangat sweet okayy .
ayat tuh .perhhhhh .romantik habess .
double thumbs up for both of you :)

Nurfarahin Selamat 21/1/11 10:56 PM  

So sweet. :'D

Vel Oliver 22/1/11 3:02 PM  

ade ke yg paham ayat tu..heheh :'D

Wahidah 22/1/11 4:23 PM  

ade...

wow...so shweet...

Irine Nadia MaRceLLo 22/1/11 5:10 PM  

;)

Vel Oliver 22/1/11 6:05 PM  

(^^)v peace..

a.N.I.s 22/1/11 7:18 PM  

mirul jiwang karat. kekekeke :P

Vel Oliver 23/1/11 11:21 PM  

falsafah namanya, bukan jiwang..huhu

andynurehanadibahrahim 24/1/11 12:50 PM  

giler dowh ayat. penuh sastera gitu. hahaaa.

junkused 30/1/11 1:40 PM  

oo ok..ikea ek?murah gler jam..haha

Anonymous 10/11/13 12:31 AM  

sejak bile start bercinta ni?..sweet ehh!

Popular Posts

Pageviews

Followers

  © Free Blogger Templates 'Photoblog II' by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP